Semakin disyukuri, nikmat karunia itu semakin bertambah. Salah satu nikmat manusia sebagai makhluk sosial diberi karunia yang banyak oleh sang Khalik.
itu adalah cinta. Cinta yang melahirkan semangat untuk menarik cinta lainnya. Cinta yang memberikan kekuatan pada orang lainnya untuk mencintai. Cinta yang bukan hanya pada sosok melainkan sesuatu yang mulia untuk ‘memanusiakan’ manusia. Mahdi Elmowasi dalam Dancing With Life mengungkapkan “Karunia terbesar manusia adalah kemampuan untuk mencintai. Adapun sifat teragung manusia yaitu kemampuan melahirkan cinta dalam diri dan menebarkannya bagai bunga pada orang lain. Karunia teragung lainnya yaitu kemampuan manusia untuk memberi dengan kekuatan cinta yang tersimpan dalam lubuk hatinya.
Sedangkan, kematian terbesar adalah hilangnya kemampuan untuk mencintai.”
Aku menangkap makna hakiki dari ungkapan Mahdi Elmosawi itu adalah hidup harus dipenuhi cinta. Bagaimana caranya siswaku menghadirkan cintanya di sekolah. Aku perlu mendesain program untuk melatih kemampuan siswa. Keterampilan mengungkapkan perasaan, pikiran dan gagasan baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan komunikatif itu sangat penting bagi siswa. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, hal itu menjadi tujuan utama.
Rencana program itu pernah kusampaikan dalam berbagai kesempatan. Baik sebagai pembina upacara bendera. Maupun pada rapat dinas sekolah. Memang di antara guru yang ada, Mahmuzar yang paling pandai berorasi dan membawakan acara. Acara seremonial di kecamatan selalu dia yang diminta menjadi MC. Figurnya sebagai pemimpin salah satu organisasi kepemudaan di kecamatan membuatnya semakin populer.
Setiap orang akan tampil untuk menyampaikan pidato tentang topik yang dia kuasai. Boleh juga mengkritik tapi jangan kebangetan. Bisa juga perasaan itu diungkapkan melalui puisi meskipun itu mengebiri. Aku menyediakan majalah dinding sekolah yang terpajang di peron piket. Namun, mading itu masih sepi penulis, lantaran guru bahasa Indonesia belum paham benar tentang pengelolaannya.
“Berlian Prisma” singkatan dari “Belajar Efektif, Ramah Lingkungan, Anti Narkoba, Berprestasi, Religius dan Mandiri” merupakan visi sekolah. Sekaligus menjadi nama mading di satuan pendidikan yang kukendalikan. Akronim itu menggantikan visi sekolah yang sudah tak relevan lagi dengan keinginan masyarakat. Seperti yang kukatakan diawal bahwa mading itu belum menjadi wadah kreativitas siswa. Ada sesuatu yang mengganjal terkait dengan kualitas SDM yang dimiliki sekolah. Karenanya, aku mencoaba untuk menggali potensi honorer. Siapa tahu di antara mereka mau ‘bercinta’ dengan program sekolah.
Menurut pendapatku, hanya cintalah yang menggerakkan orang mau berubah dan melakukan perubahan dalam hidupnya. “Tanpa cinta itu sebenarnya mereka sudah ‘mati’, kata Mahdi Elmosawi. Banyak macam cinta yang telah bersemi di hati generasi penerus di sekolahku. Cinta –cinta itu telah menebar seperti aroma teratai yang mekar di kolam bekas galian itu. Cinta pada sesama. Cinta pada lingkungan hidup. Cinta pada buku. Cinta pada citacita. Cinta pada keluarga. Cinta pada sekolah. Cinta pada agama. Cinta pada guru. Cinta pada karya. Bahkan cinta pada cinta itu sendiri. Namun, kupastikan tidak ada yang bermain cinta denganku. Hihihi! Aku tertawa dalam senyum diam-diam.
Suatu hari Puji Astuti tampil sebagai pembicara. Perempuan berdarah jawa putri seorang anak petani gurem. Gadis periang dengan nama kecil Tuti. dia terkenal sebagai pelantun lagu ‘dangdut’ pada salah satu grup musik ‘keybord’ kampung. Gadis kecil berparas cantik itu menyampaikan pernyataan yang kritis. Padahal usianya belum akan sematang itu mengungkap ‘cinta yang terlarang’. Mungkinkah, Astuti mengangkat isu itu dari pengalaman bekerja di lingkungannya? Atau hanya kebetulan saja dia mengungkap persoalaan remaja yang menjadi topik perbincangan hangat pada salah satu televisi swasta. Memang sangat menarik untuk dikisahkan.
Astuti mengisahkan ceritanya dengan suara sesekali tertahan. Maraknya tontonan yang merambah ke desa, bukanlah suatu yang menggembirakan. Puluhan bahkan ratusan pedagang asongan itu menarik untung dari jualannya. Mulai jajanan anak-anak hingga minuman orang dewasa. Digelar di lapak-lapak setiap malamnya. Menjadi peruntungan bagi mereka tapi musibah baginya. Pemuda-pemuda tanggung bukan lagi rokoknya yang dibanggakan. Mereka mulai ‘aneh’ dengan cibiran yang dilontarkan. Mulut-mulut yang berbau alkohol menganggap dirinya hanya seorang biduwan pemuas cinta terlarang.”
Aku mencermati setiap diksi yang diucapkan Astuti. ‘bukan sesuatu menggembirakan’, ‘musibah untukku’, ‘mulai aneh’ dan ‘menganggap aku hanya seorang biduwan’. Frasa dan klausa yang diungkapnya mengandung makna tertentu. Ada semacam perasaan ‘orang-orang merendahkan dirinya’ dan menganggap dirinya sebagai ‘wanita penghibur’. Padahal, dia adalah gadis kecil ‘imut-imut’ korban resesi ekonomi keluarga. Terbelit utang pada seorang rentenir kampung.
Lain lagi halnya dengan Aminah. Gadis jangkung berambut panjang anak tukang sayur keliling. Dia memaparkan cintanya pada alam. Pidatonya itu penuh semangat dan berapi-api. Dia layaknya seorang orator ulung yang sedang kampanye lingkungan hidup. Tapi aku yakin, Mahmuzar sudah mulai bekerja diam-diam di belakangnya. Tapi itu firasatku saja.
Kutipan pidato Aminah kira-kira seperti ini. “Bumi ini sudah terlalu lama dijajah keserakahan kita sendiri. Tak pernah kita sadar betapa berartinya sebatang pohon. Padahal pohon itu bukan kita yang menanam. Alam telah membesarkannya dengan tantangan hewan yang kita bangga-banggakan. Pernahkan Anda memikirkan seberapa beratnya dia bertahan untuk hidup?”
“Dia tak bisa bergerak melarikan diri ketika binatang ternak yang liar itu akan memangsanya. Dia juga tak mampu berteriak minta tolong padamu. Dia juga tak pernah memintamu untuk memandikannya setiap hari. Sedikitpun tak ada usahamu untuk melindunginya dari ancaman.
“Bahkan, ketika kau marah, pohon itu tak luput dari sasaran kebengisanmu. Kau menendangnya berkali-kali. Tanpa pernah kau sadari, sebenarnya dia menangisi nasibnya sebagai makhluk yang sangat terbatas. Juga tak pernah kau sadari betapa besar manfaatnya di kemudian hari.”
Pidato Aminah si gadis berambut panjang itu begitu menginspirasi. Aku akan mengikutsertakannya dalam lomba kampanye lingkungan hidup yang setiap tahun dilaksanakan. Badan Lingkungan Hidup (BLH) merupakan salah satu instansi pemerintah yang acap kali berpromosi tentang pelestarian lingkungan di sekolah-sekolah.
Aku juga membuat rencana dengan Puji Astuti si pelantun lagu dangdut. Dia berbakat di bidang seni. Biasanya kemendiknas menyelenggarakan festival seni yang diikuti pelajar seantero nusantara. Aku pernah membaca juknisnya ketika masih bertugas sebagai guru SMA. Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). perlombaan yang berkiprah di bidang seni itu dilaksanakan berjenjang mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.
Siswa seperti Puji Astuti dan Aminah itu hanya segelintir dari ratusan jumlah siswa di sekolah. Penampilan mereka di ruang terbuka menginspirasi sahabat-sahabat kecilnya. Mereka bukan gadis biasa. Tertawanya selalu rekah dari setiap kali bercanda. Seolah nasib hidupnya hanya sebuah mimpi yang kebetulan. Aku semakin salut. Tak ada keluh kisah tentang kesulitan hidup yang menimpanya.
Suasana sekolah sudah jauh berubah. Di halamannya sudah nyaris sulit untuk menemukan sampah tercecer. Tong sampah sudah banyak tersedia di beberapa titik rawan. Tempat sampah itu mengelompokkan dua jenis sampah. Organik dan non-organik. Gedungnya tampak lebih ‘beraura’ dari sebelumnya. Warna kontras sengaja kupilih untuk pengecatan bagian luar gedung milik pemerintah itu. Cerah merona mewarnai setiap pilar. Keteguhan yang berani menyiratkan makna dibalik warna itu. Untuk pengecatan bagian dalam ruangan, aku memilih warna hijau pandan, biru muda, dan kuning air.
Namun, sekolah tetap saja masih gersang lantaran pohon baru saja ditanam. Jumlahnya pun belum sebanding dengan luas lahan. Hasil gerakan peduli lingkungan itu menunggu waktu yang lama. Karenanya kami memperbanyak menanam bunga. Ada yang ditanam langsung mengakar ke tanah. Banyak juga yang bergantungan di beranda-beranda kelas. Jenis anggrek sengaja kupilih di selasar kantor kepala sekolah dan ruang guru.
Setiap hari ada saja perubahan yang kami lakukan. Ismadi, Miswandi, Juminah, Riris Sihaloho, Siti Maryam, Supriati, Zuraida dan Ariadi selalu terlibat dalam setiap gerakan. Bergerak untuk mengubah keadaan ibarat sebuah sungai. “Hidup adalah sungai yang terus mengalir deras. Kau harus berjalan bersamanya agar menikmati keindahannya”. Sebuah hikmah dari kajian tentang alam seperti pepatah minang “alam terkembang menjadi guru.”
Abdul Majid datang menemuiku. “Pak, SK PNS sudah keluar,” katanya dengan nada halus. Matanya berkaca-kaca serasa hendak melinangkan air mata yang tertahan. Raut wajahnya memancarkan keharuan. Ada sedih dalam kebahagiaannya. “Alhamdulillah. Berarti bulan depan gaji Bapak sudah 100%,” kataku meyakinkan. Ucapan terima kasih atas kepedulianku dikatakannya beberapa kali. Dia seakan kehillangan kata lain untuk mengutarakan maksud yang sama. “Sudah pak, gak usah terlalu memuji. Itu sudah bagian tugas saya memperhatikan anggota.” Tegasku mengingat-ingat janjinya waktu itu. “Pak, saya dulu kan janji sama Bapak.” “Kalau saja SK PNS saya tak bermasalah.
“Saya akan berubah, ….”
Ups…. Ternyata dia ingat janjinya. “Begini Pak Majid. Saya tak memaksa sikap Bapak untuk berubah. Saya hendak Bapak melakukannya dengan niat mencintai pekerjaan. Itu saja kok,” kataku mengakhiri perbincangan sambil mengucapkan selamat kepadanya.
Abdul Majid belum mau beranjak dari kursi di seberang meja kerjaku. Mungkin ada hal lain yang ingin disampaikannya. “Pak, ini sebagai tanda ucapan terima kasih saya atas bantuan Bapak,” katanya sambil menyodorkan amplop tertutup.
Waw! Dia mulai menggodaku. Kukatakan padanya dengan tegas, “Saya tak butuh itu (sambil menyorongkan kembali amplopnya). Saya butuh Bapak bekerja dan mencintai pekerjaan.”
Aku memang butuh Abdul Majid bekerja sepenuh hati. Tenaganya masih kuat dan prospek kariernya akan semakin jelas dengan masa kerja yang panjang. Dia sosok pemuda yang diperhitungkan di luar sekolah. Sekaligus menjadi kebanggaan emaknya. Tapi dia terjebak dalam ‘sistem kerja’ yang kurang menantang.
Dia seorang pemuda aktif dalam berorganisasi. Sudah menikah dengan seorang perempuan yang dicintainya. Seorang guru honorer di pinggiran wilayah kabupaten. Aku berpikir akan menempatkannya pada posisi tertentu. Kalau dia memang benar-benar berubah. Membuat keputusan untuk memulai dengan cinta.
Aku ingin memberikan sentuhan cinta dalam setiap aktivitas. Ibarat menenun kain, aku ingin merajutnya dengan benang-benang kalbuku. Aku ingin hidup dengan cinta, dan menyusuri pikiran dengan cinta. Sungguh, cinta adalah kota dan negeri asalku. Kata Mahdi Elmosawi dalam Dancing With Life. ***





