Pendampingan dan Pembinaan Metode Facilitating Dalam Merancang Modul Proyek Berbasis Data Dengan Memanfaatkan Microsite, Gemini AI Dan Format Desain ATOK

Pendampingan dan Pembinaan Metode Facilitating Dalam Merancang Modul Proyek Berbasis Data Dengan Memanfaatkan Microsite, Gemini AI Dan Format Desain ATOK

Salamuddin

[email protected]

Merancang modul proyek berbasis data merupakan tantangan yang kompleks. Namun, kerja sama guru, kepala sekolah, serta pengawas sekolah situasi dan tantangan dapat diatasi bila dilakukan secara terencana, terstruktur dan sistematis. Nilai capaian karakter Profil Pelajar Pancasila dalam Rapor Pendidikan 2024 sekolah sasaran (SMPS Putra Jaya Stabat, SMPS  IT Jannatul Firdaus Perlis, SMPS Bangun Mulia Pangkalan Brandan dan SMPN 1 Pangkalan Susu) berada dalam rentang 46,36 – 58,22 (Sedang) dan perlu ditingkatkan. Akan tetapi, SMPN 1 Pangkalan Susu capaiannya menurun dibandingkan dengan tahun 2023 lalu. Melalui observasi dan wawancara diperoleh informasi kendala pelaksanaan P-5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Guru belum memahami konsep dan belum mampu merancang modul proyek berbasis data sesuai kebutuhan murid dan karakteristik sekolah. Informasi itu diperkuat Padlet https://padlet.com/salamuddintanjung50 dan https://quizizz.com/admin/reports bahwa pemahaman konsep guru rata-rata 50,87 (rendah). Solusi yang disepakati setelah melakukan  coaching dengan kepala sekolah yakni pendampingan dan pembinaan metode facilitating. Pelaksanaannya memanfaatkan Microsite, Gemini AI dan Format Desain ATOK (Adaptif, Terampil, Optimis dan Kreatif) di https://s.id/desainatok. Aksi nyata dilakukan secara berkelanjutan meliputi kegiatan; 1) pembimbingan dan pelatihan mandiri dan/atau bergabung antarsekolah, 2) pendampingan dan pembinaan kelompok dalam sekolah, 3) pendampingan dan pembinaan individu dalam sekolah, 4) pendampingan dan pembinaan dalam komunitas belajar, 5) refleksi dan 6) evaluasi. Pendampingan dan pembinaan inimenunjukkan hasil baik walaupun belum maksimal. Analisis Statistik Microsite dan G-Form Refleksi Pengunjung https://forms.gle/DTrfqRDgUunth5C47 diperoleh data berikut; 1) pemahaman konsep meningkat rata-rata 83,00 (tinggi), 2) pengunjung Microsite tanggal 20 – 27 September 2024 sebanyak 913 orang, 3) konten Microsite 87,8% meningkatkan pemahaman konsep, 4) kepercayaan diri guru meningkat 87.8%, 5) konten Microsite bermanfaat 97.8% bagi guru, 6) Format Desain ATOK bermanfaat 100% dan 7) Microsite, Gemini AI, dan Format Desain ATOK berdampak positif terhadap 77,8% Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat untuk mengimplementasikan di sekolah binaannya.

Pelaksanaan Modul Proyek P-5 berbasis data yang dilakukan secara nyata, konsisten dan menyenangkan akan memberikan banyak manfaat bagi peserta didik. Kegiatan ini akan membentuk karakter Profil Pelajar Pancasila agar peserta didik siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Juga, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang relevan serta membangkitkan motivasi belajar. Kemudian, mendorong peserta didik untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan sekolah dan mengembangkan budaya positif (budaya literasi, budaya kolaborasi dan budaya refleksi). Karakter itu dibangun pada setiap tahapan implementasi seperti; Pengenalan, Kontekstualisasi, Aksi, Refleksi dan Tindak Lanjut (Perayaan Belajar) sebagai pembelajaran bermakna (meaningful learning) bukan membuat produk sebagai tujuan akhir kegiatan. Pada tahap Tindak Lanjut (Perayaan Belajar), saya berkesempatan menghadiri undangan sekolah sasaran. SMPS Bangun Mulia Pangkalan Brandan sangat antuasias menampilkan Tarian Etnis Batak dan Permainan Tradisional “Rangkuk Alu” Perlengkapannyapun mereka siapkan sendiri. Demikian pula peserta didik SMPS IT Jannatul Firdaus Perlis yang menampilkan Permainan Tradional “Terompah Panjang” dan ”Makanan Khas Langkat”. Mereka juga menyiapkan sendiri perlengkapannya. Lebih lanjut kedua sekolah ini menampilkan permainan tradisional “Sangsikusang” atau “Ayam dan Musang” secara bersama-sama (kolaboratif). Permainan ini membangkitkan keceriaan bagi peserta didik. Mereka bergerak berputar bergandengan tangan, bernyanyi bersama dan tetap waspada dari bahaya yang mengancam peserta didik yang berperan sebagai “ayam.” Pada akhir kegiatan dilakukan refleksi dan evaluasi sebagai asesmen akhir pendampingan dan pembinaan metode facilitating. Peserta didik mengisi survey https://bit.ly/PermainalTradional_GameOnline. Survey tentang Permainan Tradisional ini merupakan bagian dari Microsite https://s.id/desainatok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran bahwa permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang harus kita lestarikan.

Selain itu, pelaksanaan P-5 yang sesuai dengan kebutuhan murid dan/atau karakteristik sekolah akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan budaya sekolah. Misalnya budaya literasi akan tumbuh dan bekembang sebagai alat yang ampuh untuk melestarikan kearifan lokal (permainan tradisional, tarian etnis dan makanan khas daerah). Melalui literasi itu peserta didik dapat menjaga warisan budaya agar tidak hilang termakan zaman. Budaya kolaborasi juga akan tumbuh dan berkembang melalui kegiatan pembiasaan karakter Profil Pelajar Pancasila yang dibangun melalui topik modul proyek seperti permainan tradisional, tarian etnis dan makanan khas daerah. Demikian pula halnya dengan budaya refleksi. Dalam proses implementasi tim fasilitator selalu melakukan pembiasaan refleksi. Misalnya, ketika ada peserta didik yang jatuh atau tersungkur dalam permainan “Terompah Panjang” seketika itu guru meminta peserta didik berefleksi “mengapa dia sampai terjatuh atau tersungkur.” Peserta didik akan menemukan sendiri faktor yang menyebabkan dia terjatuh. Kegiatan refleksi ini dilakukan di setiap tahapan implementasi. Bila budaya sekolah ini tumbuh dan berkembang maka tiga dosa besar pendidikan kita akan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat diminimalkan.

Implementasi P-5 tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan Kurikulum Merdeka. Namun, kegiatan ini dapat menjadi pembeda sekolah yang satu dengan sekolah lainnya. Bukan mustahil suatu masa nanti, perbedaan hal baik itu akan menjadi branding school. Dengan melibatkan peserta didik dalam proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari akan membentuk kompetensi abad 21 (4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity). Selain itu, keberhasilan implementasi akan meningkatkan citra dan reputasi sekolah di mata masyarakat, menarik minat lebih banyak peserta didik baru, serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pihak eksternal. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan daya saing sekolah di tengah persaingan satuan pendidikan yang semakin ketat. Kini, persaingan antarsekolah dalam merebut kepercayaan masyarakat semakin kompetitif. Dalam pantauan kami, sekolah-sekolah milik pemerintah yang memiliki sumber daya yang lebih baik daripada sekolah swasta sudah banyak yang kekurangan murid. Dulu pemerintah banyak membangun ruang kelas dan sarana pendukung lainnya. Sekarang, sudah banyak kelas yang kosong karena ketiadaan kekurangan murid. Apakah yang menjadi faktor penyebabnya? Yah. Sekolah itu kehilangan kepercayaan masyarakat. Lantas, apa yang membuat masyarakat tidak percaya? Sudah pasti karena tidak memiliki budaya positif yang dicita-citakan masyarakat.

Pengembangan skala aksi pendampingan dan pembinaan metode facilitating merupakan upaya sistematis untuk memperluas jangkauan dan dampak yang berkelanjutan. Dengan melibatkan lebih banyak peserta didik, kelas, bahkan sekolah dan keterlibatan pengawas sekolah, dapat menciptakan gerakan yang lebih masif dan berkelanjutan. Strategi yang tepat perlu dirancang untuk mengintegrasikan aksi nyata P-5 ke dalam program tahunan dan/atau kurikulum sekolah. Hal ini tidak hanya akan memastikan keberlangsungan aksi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial dan kepedulian lingkungan pada generasi muda sejak dini. Berdasarkan survey di https://bit.ly/PermainalTradional_GameOnline. Peserta didik berharap Permainan Tradisional menjadi bagian kurikulum sekolah dan secara rutin (setiap akhir semester atau setiap akhir tahun pelajaran) menjadi salah satu kegiatan yang dilombakan di sekolah. Sebenarnya harapan ini sudah difasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat melalui Festival Lomba Seni Siswa Nasional (Cabang Penyanyi Solo, Melukis dan Tarian Etnis Kreatif). Begitu juga Dinas Pariwisata Kabupaten Langkat memfasilitasi lomba permainan tradisional (terompah panjang). Namun, kegiatan itu kurang mendapat perhatian dan respon positif dari kepala sekolah.

Keberhasilan Aksi Nyata Implemetasi P-5 di sekolah sasaran telah menginspirasi sekolah binaan lainnya. Harapan kami Aksi nyata yang terbukti dan teruji ini menjadi inspirasi bagi sekolah lain dan sebagai model bagi satuan pendidikan di wilayah ini. Kolaborasi dengan instansi terkait dan komunitas belajar akan semakin memperluas jangkauan, sehingga semakin banyak peserta didik dan guru yang dapat merasakan manfaat. Dengan bersinergi, aksi nyata ini dapat dijadikan model bagi sekolah-sekolah lain khususnya di Kabupaten Langkat. Melalui jaringan yang lebih luas (dunia maya) diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak, bergerak dan menggerakkan perubahan dalam mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas. Aksi nyata yang telah dilaksanakan di sekolah sasaran memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan menjadikan aksi ini sebagai model akan menciptakan gerakan positif yang berkelanjutan. Kolaborasi dengan dinas atau instansi terkait akan membuka peluang untuk memperkenalkan aksi ini ke jaringan yang lebih luas, sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan.

Untuk memperkuat program ini, perlu dibangun berkomitmen dan kemitraan yang lebih erat dengan berbagai pemangku kepentingan eksternal yang paling dekat yaitu komite sekolah, pemerintah desa/kelurahan/kecamatan/kabupaten dan instansi terkait. Rencana strategis mencakup penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas belajar dan sanggar seni untuk memperoleh akses yang lebih luas terhadap sumber daya dan dukungan. Selain itu, sekolah meningkatkan keterlibatan orang tua murid, alumni, dan masyarakat sekitar melalui berbagai program partisipatif dengan tujuan memperkaya ekosistem pembelajaran dan memperluas dampak positif pada implemetasi modul proyek berikutnya.

Aksi nyata pendampingan dan pembinaan metode facilitating ini memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada keberhasilan program nasional. Dengan menyelaraskan upaya dengan program pengembangan karakter, kita dapat secara efektif membentuk generasi muda yang memiliki karakter yang kuat, berdaya saing, dan mampu berperan aktif dalam membangun bangsa. Salah satu cara untuk memperkuat integrasi nasional adalah dengan memberikan masukan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menata kembali Kurikulum Merdeka, khususnya rancangan implementasi kokurikuler yang menimbulkan kegalauan dan miskonsepsi.

Upaya menjangkau berbagai kalangan praktisi, insan peduli pendidikan dan komunitas belajar (kombel) secara lebih luas, digabungkan beberapa strategi komunikasi secara luring (offline) maupun daring (online). Selain memanfaatkan media sosial, hasil aksi nyata pendampingan dan pembinaan metode facilitating  dipublikasikan dalam bentuk video, artikel, essay dan mempresentasikannya dalam komunitas belajar guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Media sosial yang digunakan; Website Sekolah Binaan SMP Negeri 1 Pangkalan Susu, Facebook Salamuddin Tanjung https://www.facebook.com/salamuddin.tanjung, Facebook Kombel GTK Sekolah Binaan ATOK https://www.facebook.com/groups, WhatsApp Kombel GTK Sekolah Binaan ATOK https://chat.whatsapp.com/GUnpPxAhEXT77p3gjFPaJL WhatsApp Kombel SIMKORWAS https://chat.whatsapp.com/HyXZODUuMhZBDFSbhS0oWR, WhatsApp Kombel MKPS https://chat.whatsapp.com/Dmk4VmcMyphGY4w9W4Nnkk, WatsApp Kombel MKKS https://chat.whatsapp.com/EkwafvpzfwT8CumU27nx29 dan WhatsApp Kombel AGBSI Langkat https://chat.whatsapp.com/HWU9Lb9lEfQFuR8kWTVFJV.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *